Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Jakarta, Pena Medan -
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat hilirisasi dan memperkuat kemitraan antara industri pengolahan susu dengan peternak lokal.
Langkah strategis ini diambil untuk memangkas ketergantungan pada impor, mengingat kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional saat ini mencapai 5 juta ton per tahun, namun 80 persennya masih harus didatangkan dari luar negeri.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa susu adalah komoditas strategis penopang ketahanan pangan dan gizi bangsa. Rendahnya konsumsi gizi masyarakat saat ini justru dinilai sebagai peluang pasar yang sangat menjanjikan ke depan.
"Industri susu memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia justru menjadi peluang besar bagi pengembangan industri susu nasional ke depan," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis 4 Juni 2026.
Data World Population Review 2022 mencatat konsumsi susu Indonesia baru menyentuh 17,76 liter per kapita per tahun, masih tertinggal dari Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
Untuk mengejar ketertinggalan pasokan lokal, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menekankan pentingnya integrasi hulu-hilir.
"Penguatan rantai pasok susu segar dalam negeri melalui program kemitraan menjadi salah satu kunci utama. Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu perlu terus diperkuat guna menciptakan ekosistem industri persusuan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan," kata Putu.
Nyata di lapangan, Kemenperin telah melakukan digitalisasi pada 96 Tempat Penerimaan Susu (TPS) di Jawa Barat dan Jawa Timur hingga 2024, yang berdampak pada 12 ribu peternak sapi perah. Aplikasi pemantauan pasokan juga diluncurkan demi transparansi rantai pasok.
Tak hanya itu, pemerintah memberikan insentif potongan biaya investasi hingga 35 persen untuk modernisasi mesin bagi industri, koperasi, maupun kelompok peternak melalui Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan.
Ke depan, Putu optimistis tren gaya hidup sehat serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menjadi dongkrak utama lonjakan permintaan susu nasional, yang wajib diimbangi oleh kesiapan produksi peternak lokal.
Sumber: RMOL
.png)

