Foto: Ilustrasi kentut (Freepik)
Pena Medan -
Banyak orang menganggap kentut atau buang angin sebagai hal yang memalukan. Padahal, proses alami tubuh ini justru dapat menjadi indikator penting untuk menilai kondisi kesehatan sistem pencernaan.
Menurut ahli gizi Shy Vishnumohan, frekuensi kentut dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas bakteri baik di dalam usus.
"Kentut beberapa kali sehari hingga sekitar 20 kali sehari dianggap normal. Kentut yang lebih sering sering dikaitkan dengan karbohidrat yang lebih mudah difermentasi, termasuk kacang-kacangan, alkohol gula, makanan tinggi FODMAP, atau intoleransi terhadap laktosa maupun fruktosa," ujarnya seperti dikutip dari Eating Well.
Dalam dunia medis, kentut bukan sekadar proses membuang gas. Frekuensi, aroma, hingga karakteristik gas yang dikeluarkan tubuh dapat menjadi petunjuk apakah sistem pencernaan bekerja dengan baik atau justru mengalami gangguan.
Secara ilmiah, kentut merupakan campuran udara yang tertelan saat makan dan gas yang diproduksi mikrobioma usus ketika memecah makanan. Aktivitas bakteri di saluran pencernaan menghasilkan berbagai jenis gas sebagai produk sampingan proses fermentasi makanan.
Bau Kentut Bisa Jadi Sinyal Kesehatan
Meski sering dianggap menjijikan, aroma kentut ternyata dapat memberikan informasi penting mengenai kondisi usus. Sebagian besar gas yang keluar sebenarnya tidak berbau. Aroma menyengat muncul akibat sejumlah kecil senyawa yang mengandung sulfur yang terbentuk selama proses pencernaan.
Vishnumohan menjelaskan bahwa bau kentut dapat bervariasi, mulai dari hampir tidak tercium hingga sangat menyengat, tergantung jenis makanan yang dikonsumsi serta komposisi bakteri di dalam saluran pencernaan.
Sementara itu, ahli gizi Ava Safir mengatakan perubahan aroma yang terjadi sesekali masih tergolong normal. Namun, kondisi berbeda perlu diwaspadai jika bau tidak sedap muncul terus-menerus.
"Perubahan bau sesekali adalah normal, tetapi bau yang tidak biasa dan terus-menerus, terutama jika disertai dengan kembung, sembelit, atau diare, dapat menandakan perubahan pencernaan atau ketidakseimbangan mikroba," kata Safir.
Menurutnya, bau kentut yang sangat kuat dan berlangsung lama bisa menjadi indikasi gangguan seperti malabsorpsi karbohidrat, pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus atau Small Intestinal Bacterial Overgrowth (SIBO), hingga masalah pencernaan lain yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Suara Kentut Tak Banyak Berkaitan dengan Kesehatan
Selain bau, suara kentut juga sering menjadi perhatian. Namun, para ahli menegaskan bahwa keras atau pelannya suara kentut umumnya tidak memiliki kaitan langsung dengan kesehatan usus.
"Suara saat mengeluarkan gas sebagian besar bersifat mekanis dan bergantung pada seberapa banyak gas yang ada, seberapa cepat gas tersebut bergerak, dan tonus otot yang dilewatinya," jelas Safir.
Ia menambahkan, beberapa kondisi seperti sembelit, ketegangan otot dasar panggul, hingga wasir dapat memengaruhi tonus otot rektum sehingga mengubah cara gas keluar dari tubuh. Faktor-faktor tersebut dapat membuat kentut terdengar lebih keras atau lebih sulit ditahan.
Berapa Kali Kentut yang Masih Normal?
Secara umum, orang sehat rata-rata membuang angin sekitar 10 hingga 20 kali dalam sehari. Frekuensi tersebut justru menunjukkan bahwa bakteri baik di dalam usus sedang aktif menjalankan fungsinya dalam proses pencernaan makanan.
Bagi mereka yang baru meningkatkan konsumsi serat, frekuensi kentut biasanya akan bertambah untuk sementara waktu. Namun kondisi ini umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun dua hingga enam minggu setelah asupan serat ditingkatkan, frekuensi kentut pada sebagian besar orang akan kembali ke tingkat normal seiring adaptasi sistem pencernaan.
Dengan kata lain, kentut bukanlah sesuatu yang harus selalu dianggap memalukan. Selama frekuensinya masih berada dalam kisaran normal dan tidak disertai gejala lain seperti nyeri perut, diare, atau sembelit berkepanjangan, buang angin justru merupakan tanda bahwa sistem pencernaan sedang bekerja sebagaimana mestinya.
Sumber: CNBC Indonesia
.png)

