Peringkat Satu: Indonesia Jadi Negara Paling Dermawan se-Dunia, Maroko Paling Pelit

Foto: Aristya Rahadian Krisabella

Pena Medan -

Indonesia berada di peringkat 1 dunia untuk indikator generosity (kedermawanan) berdasarkan World Happiness Report.

Indonesia bersanding dengan Myanmar serta negara maju seperti Norwegia, Australia, Islandia, Belanda, Malta, Irlandia, dan Inggris.

Peringkat ini menunjukkan bahwa budaya memberi tidak selalu mengikuti tingkat pendapatan.

Negara dengan produk domestik bruto (gross domestic product/GDP) per kapita yang tinggi memang memiliki sumber daya lebih besar, tetapi belum tentu masyarakatnya lebih sering berbagi dibanding negara lain.

Laporan World Happiness Report 2026 membuat peringkat dengan melibatkan 147 negara. 

Bila Indonesia paling dermawan maka Maroko ada di peringkat terbawah dalam daftar negara paling dermawan. Maroko hanya lebih baik dari Georgia dan Lesotho.

Bukan Soal Besarnya Donasi

Perbedaan tersebut berkaitan dengan cara World Happiness Report mengukur generosity.

Indikator ini tidak menghitung total dana filantropi atau nilai sumbangan suatu negara. Penilaian berasal dari jawaban responden Gallup World Poll atas pertanyaan apakah mereka pernah menyumbangkan uang kepada lembaga amal dalam satu bulan terakhir.

Jawaban itu kemudian disesuaikan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita masing-masing negara. Dengan pendekatan tersebut, indikator generosity berupaya menangkap kecenderungan masyarakat untuk memberi setelah memperhitungkan tingkat pendapatan, sehingga negara yang lebih kaya tidak otomatis memperoleh skor lebih tinggi.

Report tersebut juga menemukan bahwa generosity memiliki kaitan yang kuat dengan positive affect atau emosi positif. Bersama kebebasan menentukan pilihan hidup (freedom), perilaku memberi menjadi salah satu faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap penilaian seseorang atas kualitas hidup.

Indonesia dan Budaya Memberi

Semangat berbagi di Indonesia juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari gotong royong, membantu tetangga, berdonasi saat bencana, hingga menyalurkan zakat, infak, sedekah, maupun wakaf. Bentuknya beragam, tetapi benang merahnya sama, yakni membantu orang lain tanpa selalu mengharapkan imbalan.

Kebiasaan tersebut juga terlihat dari praktik micro giving, yaitu donasi dalam nominal kecil yang dilakukan secara rutin. Nilainya mungkin hanya beberapa ribu rupiah, tetapi frekuensinya tinggi. Pola ini menunjukkan bahwa keputusan untuk berbagi lebih banyak dipengaruhi kebiasaan sosial dibanding besarnya pendapatan.

Temuan tersebut sejalan dengan berbagai riset yang dikutip World Happiness Report. Selain donasi, perilaku prososial seperti menjadi relawan, membantu keluarga, tetangga, maupun orang yang tidak dikenal juga berkaitan dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi bagi pemberinya.

Dengan kata lain, generosity bukan hanya soal uang yang berpindah tangan. Yang dinilai adalah kecenderungan seseorang untuk membantu orang lain, dalam berbagai bentuk.


Setelah Memberi, Apa Berikutnya?

Namun budaya memberi juga menghadapi tantangan baru ketika kondisi ekonomi melemah.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Penyusutan ini ikut memengaruhi kemampuan sebagian masyarakat untuk berdonasi.

Sejumlah lembaga filantropi mencatat kontribusi dari kelompok donor kelas menengah mulai melambat, baik dari sisi frekuensi maupun nilai donasi. Di sisi lain, penurunan tersebut sebagian diimbangi oleh meningkatnya kontribusi dari kelompok donor dengan kapasitas ekonomi lebih besar.

Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya memberi belum menghilang, tetapi mulai berubah mengikuti dinamika ekonomi. Tantangannya bukan lagi mendorong masyarakat agar mau berbagi, melainkan memastikan semangat tersebut dapat terus bertahan ketika daya beli melemah.

Di saat yang sama, pengelolaan donasi juga menjadi semakin penting. Penyaluran yang lebih terarah, transparan, dan akuntabel berpotensi membuat setiap rupiah yang disumbangkan menghasilkan dampak sosial yang lebih besar.


 


Sumber: CNBC Indonesia 


Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan

```

Iklan



نموذج الاتصال