Logo Saudi Aramco terlihat di luar Khurais, Arab Saudi, 12 Oktober 2019. Foto: REUTERS/Maxim Shemetov
Pena Medan -
Perusahaan eksportir minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco, memangkas pasokan minyak mentah kepada pembeli di Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada April 2026
Menurut tiga sumber Reuters yang mengetahui masalah tersebut pada Senin (24/3), hal itu dilakukan setelah perang AS-Israel dengan Iran mengganggu perdagangan melalui Selat Hormuz.
Menurut sumber-sumber tersebut, produsen hanya memasok minyak mentah Arab Light yang diekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah kepada pelanggan jangka panjang pada April, sehingga pasokan ke kilang-kilang di Asia tetap ketat dan membatasi produksi produk olahan mereka.
"Saudi Aramco terus memastikan pasokan energi yang andal dengan memanfaatkan jalur ekspor alternatif melalui Yanbu sebagai respons terhadap kondisi regional yang terus berubah," kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters.
"Kami tetap berkomitmen untuk memenuhi harapan pelanggan kami, dengan jadwal pemuatan yang disesuaikan untuk mencerminkan realitas baru, dan pelanggan terus diberi informasi," tambahnya.
Arab Saudi telah mengekspor 4,355 juta barel minyak mentah per hari sepanjang bulan Maret ini, menurut data dari perusahaan analisis Kpler, turun dari 7,108 juta barel per hari pada Februari.
Produsen tersebut berupaya meningkatkan ekspor minyak mentah melalui Yanbu untuk mengimbangi gangguan di Selat Hormuz, dengan muatan diperkirakan meningkat hingga volume rekor pada bulan Maret.
Kilang minyak terbesar di China, Sinopec (600028.SS) dijadwalkan akan memuat sekitar 24 juta barel minyak mentah Saudi dari Yanbu pada Maret. Aktivitas bongkar muat minyak di pelabuhan Yanbu sempat terganggu pada hari Kamis setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF milik Saudi Aramco.
Sumber: kumparan
.png)

