Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah.
Jakarta, Pena Medan -
Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore menguat sembilan poin atau 0,05 persen menjadi Rp17.943 per USD dari sebelumnya Rp17.952 per USD.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.942 per USD dari sebelumnya Rp17.955 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan ini disebabkan harga minyak mentah yang terus merosot tajam hingga menyentuh di bawah USD70 per barel untuk WTI Crude Oil.
"Kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran telah memungkinkan lalu lintas melalui selat (Selat Hormuz) untuk dimulai kembali, sehingga meredakan kekhawatiran pasokan yang membuat harga minyak mentah dunia terus merosot tajam pekan ini," ucap dia dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Kamis, 25 Juni 2026.
Kesepakatan AS dan Iran
Dalam sebuah forum, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan aliran melalui Selat Hormuz hampir sama seperti sebelum dimulainya perang Iran. Setidaknya, 20 juta barel telah keluar dari selat dalam 24 jam terakhir. Wright menambahkan, kembalinya kondisi normal sepenuhnya akan memakan waktu beberapa pekan karena selat tersebut perlu dibersihkan dari ranjau.
Kesepakatan antara Iran dengan AS itu sendiri menetapkan periode negosiasi selama 60 hari untuk menangani isu-isu yang lebih sulit, termasuk program nuklir Iran. Wright mengatakan minyak bakal terus mengalir melalui selat, bahkan jika kesepakatan tersebut tidak berlaku karena Iran dianggap takkan dapat menutupnya lagi.
Selain itu, Oman membuka rute sementara untuk mempermudah keberangkatan kapal tanker dari Selat Hormuz dengan keterlibatan Organisasi Maritim Internasional.
Perdana Menteri Qatar turut mengunjungi Oman untuk melakukan pembicaraan mengenai dimulainya negosiasi tentang pengelolaan selat di masa depan dengan Iran, Irak, dan negara-negara Teluk.
“Namun penurunan harga minyak ini belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve (Fed), karena bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir 2026, sementara mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil,” kata Ibrahim.
Sumber: MetroTV
.png)

