Tanda-tanda Kiamat Makin Dekat, Eropa Sudah Mendidih

Foto: Danau Prespa yang meruipakan danau tertua di Eropa mengalami kekeringan. (REUTERS/Ognen Teofilovski)

Pena Medan -

Pemanasan global dan perubahan iklim mulai menyasar kawasan Eropa, di mana masyarakat Benua Biru kini sedang mengalami cuaca yang sangat panas.

Eropa kini sedang dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor pekan ini. Bahkan, Eropa menjadi benua yang paling cepat memanas di dunia, membentang hingga ke Arktik yang memanas lebih cepat lagi.

Setelah rekor suhu tertinggi pada Mei dipecahkan di Inggris, Irlandia, dan Prancis, benua Eropa masih menghadapi gelombang panas yang lebih brutal dalam beberapa hari mendatang.

Fenomena yang disebut "kubah panas" berupa udara hangat dari Afrika utara yang terperangkap di bawah sistem tekanan tinggi di atas Eropa barat adalah penyebab gelombang panas yang biasanya baru terlihat di puncak musim panas.

Diketahui, suhu Eropa saat ini sekitar 1,4°C lebih hangat dibandingkan pada masa pra-industri, yang didefinisikan sebagai 1850-1900-an.

Sebagai perbandingan, suhu Eropa saat ini sekitar 2,4 kali lebih panas daripada era pra-industri, menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa.

"Hampir semua panas ini disebabkan oleh efek rumah kaca yang diinduksi manusia dari emisi bahan bakar fosil, dengan distribusi sebenarnya dari panas berlebih ini ditentukan oleh (beberapa) faktor," kata Ben Clarke, peneliti cuaca ekstrem dan perubahan iklim di Imperial College London, dikutip dari AFP, Sabtu (30/5/2026).

Sementara itu menurut Copernicus, perubahan sirkulasi atmosfer telah menyebabkan gelombang panas yang lebih sering dan lebih intens di musim panas Eropa.

"Sistem tekanan tinggi, yang membawa cuaca stabil dan suhu lebih tinggi, telah menjadi lebih umum di Eropa," kata Direktur Copernicus, Carlo Buontempo, dikutip dari AFP.

"Jika Anda melihat dalam 20 atau 30 tahun terakhir, ada prevalensi, terutama di musim panas, dari kondisi antisiklon semacam itu yang membuat gelombang panas lebih mungkin terjadi," tambah Buontempo.


Pemanasan Arktik yang lebih cepat

Alasan utama lainnya adalah letak geografis. Eropa terhubung dengan Arktik, yang memanas jauh lebih cepat daripada bagian benua lainnya. Arktik kini lebih hangat 3,2°C daripada di zaman pra-industri.

Peningkatan suhu di wilayah ini sebagian disebabkan oleh proses yang dikenal sebagai umpan balik Albedo, di mana salju dan es yang cerah memantulkan sebagian besar panas matahari kembali ke angkasa, tetapi saat mencair, mereka menampakkan permukaan yang lebih gelap dan menyerap panas seperti daratan dan lautan.

"Jadi, ketika es di laut mencair, hal itu menyebabkan penyerapan panas yang lebih besar, yang pada gilirannya semakin menghangatkan air dan mencairkan lebih banyak es," ujar Clarke.

Sistem tekanan tinggi semacam itu juga dikenal sebagai "tekanan tinggi penghalang" karena dapat tetap diam dan menghentikan sistem cuaca lain untuk bergerak ke suatu wilayah.


Salju yang mencair

Buontempo menambahkan, di bagian Eropa lain, area di mana salju yang sebelumnya sangat sering turun di musim dingin, kini telah menyusut.

"Banyak wilayah bersejarah yang dulunya mengalami kondisi beku selama seminggu atau lebih, kini tidak lagi mengalaminya. Dan ini berarti memperlihatkan lahan yang gelap, bukan salju putih," ungkap Buontempo.


Polusi udara menurun

Peraturan kualitas udara yang lebih ketat telah mengurangi emisi aerosol sejak 1980-an.

Namun, upaya mengatasi polutan tersebut memiliki efek samping berupa kontribusi terhadap pemanasan global, karena partikel-partikel kecil di udara ini memiliki efek pendinginan dengan memantulkan sinar matahari dan membuat awan menjadi lebih reflektif.

"Meskipun pengurangan polusi udara sangat penting untuk kesehatan pernapasan, hal itu juga meningkatkan radiasi matahari di permukaan, karena banyak jenis partikel membelokkan sinar matahari," jelas Clarke.


Tingkat yang berbeda-beda

Dilaporkan juga bahwa laju perubahan suhu bervariasi di seluruh Eropa. Menurut Copernicus, Eropa Timur dan Tenggara, serta sebagian Eropa Tengah termasuk Pegunungan Alpen, telah mengalami pemanasan sebesar 0,5C-1C per dekade selama 30 tahun terakhir.

Eropa barat dan barat daya, serta Finlandia, Norwegia, dan Swedia di wilayah sub-Arktik, mengalami pemanasan sebesar 0,2C-0,5C per dekade.

Svalbard, kepulauan Arktik Norwegia yang merupakan rumah bagi beruang kutub, telah mengalami pemanasan sebesar 1,5C-2C per dekade.

Sebagai salah satu tempat dengan pemanasan tercepat di Bumi, Svalbard mengalami suhu musim panas tertinggi yang pernah tercatat dari tahun 2022 hingga 2024. Tahun lalu, Svalbard mencatat musim panas terpanas keempat dalam sejarah.




Sumber: CNBC Indonesia 


Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan



Iklan



نموذج الاتصال