Ilustrasi QRIS. Foto: Daniel Pawer/Shutterstock
Jakarta, Pena Medan -
Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kian meluas. Bank Indonesia (BI) mencatat saat ini sistem pembayaran digital tersebut telah digunakan hampir 60 juta orang dan bisa dipakai tak hanya di dalam negeri, tetapi juga di sejumlah negara.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengisahkan, lahirnya QRIS berawal dari gagasan besar untuk mempermudah transaksi keuangan lewat teknologi digital. Ide itu muncul pada 2019, sekitar 10 bulan sebelum pandemi COVID-19 melanda Indonesia.
"Di tahun 2019, kita 10 bulan sebelum COVID. Belum ada (pembayaran) digital di Indonesia. Ingat nggak? Nggak ada QRIS, adanya Krisdayanti (penyanyi)," kata Perry di Kantor Bank Indonesia, Senin (23/2).
Berangkat dari mimpi tersebut, BI kemudian merancang visi dan langkah konkret untuk mewujudkan sistem pembayaran terpadu. Pada 2019, BI meluncurkan cetak biru sistem pembayaran digital Indonesia untuk periode 2019–2025 sebagai fondasi pengembangannya.
Puncaknya, pada 17 Agustus 2019, BI mendeklarasikan QR Indonesia Standard (QRIS) sebagai standar tunggal pembayaran berbasis QR code di Tanah Air.
"Salah satunya 17 Agustus 2019, kita memproklamirkan satu bahasa pelayanan digital pembayaran. Namanya QR Indonesian Standard. Namanya QRIS, dibacanya kris, bukan kyu-ris," ungkapnya.
Sebelum QRIS diluncurkan, terdapat sekitar 13 hingga 14 jenis QR pembayaran yang digunakan berbagai penyelenggara jasa sistem pembayaran. Melalui standardisasi tersebut, seluruh kode QR disatukan dalam satu sistem, yang kemudian menjadi tonggak penting transformasi digital sektor keuangan nasional.
"Itulah visi kita, mimpi pada waktu itu. Dan sekarang berapa QRIS digunakan? 60 juta pengguna QRIS," kata Perry.
Menurutnya, keberhasilan QRIS merupakan proses panjang dari gagasan yang dijadikan visi, lalu diterjemahkan ke dalam aksi nyata hingga akhirnya terwujud.
"Yes, that from the dream, to be vision, to be action. And end up to be reality. Itu lah mimpi yang menjadi visi, aksi, dengan sinergi, kolaborasi akhirnya membuat reality," tutur dia.
Saat ini, penggunaan QRIS sudah merambah ke sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. Ke depan, BI menargetkan ekspansi ke negara lain, antara lain China, Korea Selatan, India, hingga Arab Saudi.
Selain QRIS, Perry juga menyinggung penguatan infrastruktur pembayaran melalui BI-FAST. Sistem ini merupakan pengembangan dari SKNBI dan GPN yang memungkinkan transaksi lebih cepat dan efisien. Hingga kini, tercatat riwayat pengguna BI-FAST mencapai 1,8 triliun transaksi.
Ia menambahkan, pengembangan QRIS dan BI-FAST turut didukung oleh Standard National Open API (SNAP) serta layanan perbankan digital yang terintegrasi.
“Itu adalah legacy. From where (is) this legacy? From dreaming. Menjadi visi blueprint sistem pembayaran di Indonesia, menjadi aksi, QRIS, BI-FAST, SNAP,” ujar Perry.
Sumber: kumparan
.png)

