Langit Kota Pontianak Padat Makna, Ramadan dan Imlek Bersua Harmoni

Pawai Obor Ramadan 1447 Hijriah dan perayaan Imlek 2026 hadir serentak di Kota Pontianak Kalimantan Barat. (Liputan6.com/Aceng Mukaram)

Pontianak, Pena Medan -

Langit Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin malam 16 Februari 2026 bergerak pelan, namun padat makna. Jalan Ahmad Yani penuh kendaraan.

Arus lalu lintas tersendat. Lampu kota berpendar lembut. Namun bukan lampu itu pusat perhatian. Ratusan obor menyala serentak. Api kecil menjulur ke langit Khatulistiwa.

"Macet jalan malam ini," tutur warga Kota Pontianak, Kharini.

Ia tersenyum. Kemacetan tak memantik keluh.

"Ramailah pokoknya. Ini bertepatan sambut Ramadan juga Imlek. Makanya lebih ramai," ucap perempuan 29 tahun itu.

Ungkapan singkat tersebut merekam denyut kota. Dua perayaan hadir bersamaan. Ramadan 1447 Hijriah tiba. Tahun Baru Imlek berganti angka.

Cahaya obor menyatu dengan kilau lampion merah. Takbir bersahut. Petasan bergetar. Kembang api memecah langit Kapuas. Pontianak memeluk dua tradisi dalam satu malam.

Halaman Masjid Raya Mujahidin dipenuhi peserta. Pawai Obor bergerak teratur. Barisan remaja masjid, majelis taklim, anak sekolah, komunitas pemuda melangkah serempak. Obor digenggam erat. Api berkibar tertiup angin sungai.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono hadir di tengah barisan. Ia menilai momentum tersebut sebagai wajah toleransi hidup nyata.

"Ini adalah kegiatan budaya, keagamaan, dan religi. Komitmen kita menyambut bulan suci Ramadan harus kita laksanakan dengan lebih baik. Tapi pada saat yang sama, kita juga menghormati saudara-saudara kita yang merayakan Imlek," kata Edi Rusdi Kamtono.

Tradisi Pawai Obor

Pernyataan itu menegaskan posisi pemerintah kota. Pawai obor tak semata seremoni. Tradisi tersebut mengandung simbol kesiapan spiritual. Api melambangkan tekad. Cahaya menjadi penanda niat bersih.

Sebelum pawai, Pemerintah Kota menggelar Pawai Taaruf. Agenda itu menjadi pembuka rangkaian syiar Ramadan. Rute disusun rapi. Aparat keamanan siaga. Relawan kebersihan disebar. Tata kelola diperhatikan. Edi Rusdi Kamtono mengingatkan pentingnya ketertiban.

"Tunjukkan bahwa kita umat Islam berpegang pada Al Quran dan Hadis. Jaga ukhuwah Islamiyah, jaga keselamatan, jangan sampai merusak," ucap Edi Rusdi.

Pesan tersebut relevan. Keramaian rentan gesekan. Namun malam itu berjalan kondusif. Tidak terlihat provokasi. Tidak terdengar gesekan antar kelompok. Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Karet tetap dalam kendali.

Lampion Imlek Harmoni

Pada sudut berbeda, kawasan Gajahmada memerah. Lampion bergantung anggun di depan ruko. Ornamen naga dan huruf Tionghoa menghiasi pintu. Aroma dupa samar tercium. Petasan meletup singkat. Kembang api membentuk bunga cahaya di langit.

Tahun Baru Imlek bagi warga Tionghoa Pontianak memiliki makna silsilah panjang. Kota ini sejak lama menjadi simpul perdagangan. Sungai Kapuas menjadi jalur ekonomi. Jejak komunitas Tionghoa tercatat ratusan tahun silam.

Kehadiran lampion berdampingan dengan obor membentuk metafora sosial. Dua simbol berbeda berdiri dalam satu ruang publik tanpa saling meniadakan. Kota tidak terbelah. Ruang tetap terbuka.

Tidak ada pembatas. Tidak ada larangan sepihak. Aktivitas berjalan paralel. Masjid bergema takbir. Klenteng diterangi lilin. Publik melintas tanpa canggung.

Kharini berdiri di tepi jalan. Ia mengamati pawai.

"Ramai. Senang lihat begini," ucapnya singkat.

Komentar sederhana tersebut menyimpan makna psikologis. Rasa aman melahirkan kegembiraan kolektif.

Pariwisata Budaya Religi

Di Kecamatan Pontianak Barat, Festival Pawai Obor 2026 digelar terpisah. Ratusan peserta mengenakan kostum kreatif. Arak arakan dimulai dari Jalan Karet menuju GOR Bulu Tangkis Tabrani Ahmad.

Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menilai, tradisi ini memiliki potensi ekonomi. Pariwisata berbasis komunitas mulai didorong. Agenda religi masuk kalender event daerah. Dampak ekonomi kreatif diharapkan tumbuh.

Momentum Ramadan lazim mendorong konsumsi lokal. Pedagang makanan meningkat omzet. Penjual busana muslim panen pembeli. Sektor transportasi lokal bergerak. Hotel menerima tamu luar kota.

"Kegiatan ini menjadi sarana memperkuat ukhuwah, menumbuhkan rasa persaudaraan," ucap Bahasan.

Pernyataan itu memadukan dua kepentingan. Spirit ibadah tetap dijaga. Aktivitas ekonomi tetap bergerak. Tidak ada dikotomi sakral dan produktif.

Komunitas Budaya Lokal

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kota Pontianak, Rizal Al Mutahar, menyoroti keterlibatan komunitas.

"Pawai obor ini dilaksanakan dalam rangka mempererat silaturahmi. Banyak terlibat, mulai dari anak anak, remaja masjid, majelis taklim, komunitas lainnya," kata Rizal.

Keterlibatan lintas usia menjadi indikator partisipasi sosial. Tradisi tidak terhenti pada generasi tua. Anak anak memegang obor. Remaja menyusun barisan. Orang tua mengawasi. Rizal menilai budaya tersebut perlu dikelola merata.

"Kami berharap pengelolaan kegiatan bisa lebih merata di setiap kecamatan," ucap Rizal.

Distribusi lokasi menjadi penting. Konsentrasi massa pada satu titik rawan kepadatan. Penyebaran wilayah memperluas manfaat ekonomi serta partisipasi.

Data internal dinas menunjukkan kegiatan di Jalan Karet telah berlangsung tiga kali. Konsistensi tersebut menandakan komitmen keberlanjutan.

Fenomena dua perayaan dalam satu malam bukan sekadar kebetulan kalender. Ia mencerminkan struktur sosial Pontianak. Kota ini memiliki komposisi etnis beragam. Melayu, Tionghoa, Dayak, Madura hidup berdampingan.

Teori kohesi sosial menekankan tiga unsur. Kepercayaan publik, interaksi positif, pengakuan identitas. Malam itu tiga unsur hadir bersamaan. Kepercayaan tercermin pada rasa aman. Interaksi terlihat di ruang jalan. Identitas diakui tanpa dominasi.

Simbol obor dan lampion berfungsi sebagai representasi budaya. Representasi tersebut tidak bersaing. Ruang kota bersifat inklusif. Aparat tidak membatasi ekspresi ibadah. Pemerintah memfasilitasi dua agenda secara simultan.

Dari perspektif tata kelola, koordinasi lintas instansi menjadi kunci. Kepolisian mengatur lalu lintas. Satpol PP menjaga ketertiban. Dinas kebersihan siaga pasca acara. Tanpa koordinasi, keramaian mudah berubah chaos.

Dari sisi psikologi kolektif, momentum tersebut memperkuat identitas kota toleran. Narasi positif terbentuk melalui pengalaman langsung. Warga menyaksikan harmoni, bukan sekadar slogan.

Dimensi Ekonomi Kreatif

Ramadan identik dengan konsumsi kuliner malam. Pedagang takjil bermunculan. Usaha mikro kecil mendapat ruang. Imlek mendorong pembelian kue khas, dekorasi, pakaian tradisional.

Ketika dua momentum bertemu, siklus ekonomi menguat. Perputaran uang meningkat. Sektor informal bergerak cepat. Hal ini berdampak pada pendapatan harian warga kelas menengah bawah.

Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menyebut agenda tersebut berpotensi menjadi destinasi religi budaya. Strategi tersebut realistis. Pontianak memiliki identitas geografis unik sebagai kota Khatulistiwa. Narasi toleransi dapat menjadi daya tarik promosi.

Namun pengembangan wisata memerlukan standar keamanan serta manajemen sampah. Tanpa tata kelola, citra positif mudah tercoreng. Pemerintah perlu menyusun indikator keberhasilan terukur. Jumlah pengunjung, omzet UMKM, tingkat kepuasan warga dapat dijadikan parameter.

Kota Pontianak dibelah Sungai Kapuas. Air mengalir tenang malam itu. Pantulan cahaya obor dan lampion terlukis di permukaan sungai. Metafora harmoni tercermin jelas.

Cahaya berbeda namun sama sama menerangi. Api obor tidak memadamkan lampion. Lampion tidak menghalangi takbir. Dua tradisi berjalan dalam ruang demokratis.

Kharini pulang larut malam. Macet tetap ada. Namun ia menyimpan kesan mendalam. Rasa bangga tumbuh. Kota terasa hangat.

Pontianak kembali memperlihatkan pilihan sadar. Harmoni dipelihara melalui tindakan konkret, bukan retorika. Pawai obor, lampion Imlek, koordinasi pemerintah, partisipasi komunitas, seluruh unsur menyatu.

Malam itu menjadi arsip sosial. Arsip tentang toleransi hidup nyata. Arsip tentang cahaya kecil mampu menembus gelap prasangka.

Kota Pontianak memberi pelajaran sederhana namun kuat. Keberagaman tidak perlu ditakuti. Ia dapat dirayakan bersama. Dalam satu langit, dua cahaya bersinar. Dalam satu kota, banyak hati bertaut.




Sumber: Liputan6 


Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan



Iklan



نموذج الاتصال