Pelemparan jumrah memiliki aturan yang jelas, mulai dari urutan jumrah, jumlah lemparan, bacaan doa, hingga waktu pelaksanaannya. (ANTARA FOTO/ANDIKA WAHYU)
Pena Medan -
Tata cara lempar jumrah perlu dipahami oleh setiap jamaah haji agar pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan. Ibadah ini dilakukan di Mina pada hari-hari tertentu, dengan urutan dan ketentuan yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Meski terlihat sederhana, pelemparan jumrah memiliki aturan yang jelas, mulai dari urutan jumrah, jumlah lemparan, hingga waktu pelaksanaannya.
Karena itu, penting untuk mengetahui setiap tahapnya agar ibadah dapat berjalan dengan tertib dan khusyuk.
Apa itu jumrah?
Melansir penjelasan dalam bukuPanduan Beribadah Khusus Pria: Menjalankan Ibadah sesuai Tuntunan al-Qur'an dan as-SunnahkaryaSyaikh Hasan Muhammad Ayyub, jumrah adalah batu kecil yang digunakan dalam prosesi melempar jumrah.
Secara istilah, melempar jumrah berarti melempar batu kerikil pada waktu dan tempat tertentu sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji. Hukum melaksanakannya wajib menurut jumhur ulama dan empat imam mazhab.
Adapun dasar hukumnya adalah hadis Riwayat Muslim berikut ini:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمِى اَلْجَمْرَةَ ضُحًى يَوْمَ النَّحْرِ وَحْدَهُ وَرَمَى بَعْدَ ذَلِكَ بَعْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ -رواه مسلم
Artinya: Jabir berkata, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melontar satu jumrah saja (jumrah aqabah) pada waktu dhuha hari Nahar. Dan sesudah itu hari-hari berikutnya (tanggal 11 sampa dengan 13 Dzulhijah) beliau melempar (tiga jumrah) setelah tergelincir matahari,".
Jenis-jenis jumrah
Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga jenis jumrah. Pertama adalah jumrah shugra (ula), kedua jumrah wustha (tengah), dan ketiga jumrah kubra atau yang dikenal sebagai jumrah aqabah.
Ketiga jumrah ini memiliki urutan yang harus diikuti saat hari tasyrik. Setiap jumrah dilempar menggunakan batu kerikil dengan jumlah tertentu sesuai tuntunan. Berikut penjelasan lengkapnya:
Jumrah Ula (Shugra),terletak paling awal dari arah Mina, dekat dengan Masjid Khoif. Jumrah ini melambangkan upaya membebaskan diri dari sifat Qarun, yaitu kecenderungan terhadap keserakahan dan kecintaan berlebihan pada harta.
Jumrah Wustha, berada di antara jumrah ula dan jumrah aqabah. Jumrah ini menjadi simbol perlawanan terhadap sifat Bal'am, yang menggambarkan penyimpangan dari kebenaran meskipun telah mengetahuinya.
Jumrah Aqabah (Kubra), terletak di ujung barat Mina, paling dekat ke arah Makkah. Pada hari Nahar, hanya jumrah ini yang dilempar. Jumrah aqabah melambangkan perlawanan terhadap sifat Fir'aun, seperti kesombongan, kezaliman, dan penindasan.
Tata cara melempar jumrah dan waktu pelaksanaannya
Berdasarkan penjelasan dalamBuku Pintar Muslim dan Muslimahkarya Rina Ulfatul Hasanah, lempar jumrah dilakukan pada hari Nahar (10 Dzulhijjah) dan berlanjut pada hari-hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah).
Setiap harinya memiliki ketentuan yang berbeda, baik dari segi jumrah yang dilempar maupun waktu pelaksanaannya.
Pada hari Nahar, jamaah hanya melempar jumrah aqabah sebanyak tujuh kali. Sementara pada hari tasyrik, pelemparan dilakukan pada ketiga jumrah secara berurutan, dimulai dari jumrah ula, kemudian wustha, dan diakhiri dengan jumrah aqabah.
Selain urutan dan jumlah lemparan, terdapat juga adab serta bacaan yang dianjurkan saat melempar, yakni sebagai berikut:
Berdiri menghadap kiblat, namun diperbolehkan juga menghadap langsung ke arah jumrah.
Melempar tujuh butir batu kerikil ke arah jumrah, dilakukan satu per satu, tidak sekaligus.
Mengangkat tangan saat melempar sebagai bagian dari tata cara yang dianjurkan.
Membaca takbir "Allahu Akbar" atau talbiyah setiap kali melempar satu kerikil.
Membaca doa setelah lemparan: اللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَنِ وَرَغْمَ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ تَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ ("Allah Maha Besar. Aku berjalan di atas jalan ketaatan kepada Allah meski setan datang menghadang. Ya Allah, aku mempercayai kitab suci-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu.")
Setelah selesai melempar, berhenti membaca talbiyah dan melanjutkan dengan takbir setelah shalat fardu hingga akhir hari tasyrik.
Lalu, Syekh Sa'id bin Muhammad Ba'ali dalam kitab Busyral Karim menjelaskan bahwa ada beberapa kesunahan yang perlu diperhatikan ketika melempar jumrah. Salah satunya adalah kamu harus melempar jumrah dengan tangan kanan.
Selain itu, dianjurkan untuk menggunakan batu yang suci, dan bagi jamaah laki-laki tangannya harus terangkat hingga terlihat ketiak.
Jemaah tidak diperkenankan untuk berlama-lama di area jumrah dan melanjutkan doa di tempat lain agar tidak mengganggu jamaah lain.
Demikian tata cara lempar jumrah, lengkap dengan penjelasan masing-masing jumrah dan doanya.
Sumber: CNN Indonesia
.png)

