Ilustrasi suhu panas/Pixabay
Semarang, Pena Medan -
El Nino Godzilla atau El Nino ekstrem mengancam sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan telah memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal. Cuaca yang sebentar panas sebentar kemudian hujan menjadi salah satu indikator datangnya musim kemarau. Kondisi itu, mendorong BMKG mengimbau provinsi bergerak cepat mempersiapkan diri meminimalisir kekurangan air bersih saat musim kemarau ekstrem tiba.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo sendiri telah menginstruksikan untuk mengisi penuh seluruh bendungan yang ada di Indonesia, agar mampu menyuplai kebutuhan air irigasi saat curah hujan menurun drastis. Lalu bagaimana dengan kawasan yang tidak punya bendungan, seperti Kota Semarang misalnya?
Pemkot Semarang mengambil langkah dengan menyiapkan 1 juta liter air bersih khusus untuk masyarakat. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat dikonfirmasi Liputan6.com, Minggu (12/4/2026) mengatakan, sejumlah rencana mitigasi telah dibicarakan, termasuk kolaborasi lintas instansi, yakni dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Perusahaan khusus pengelolaan air baku milik Pemkot, ditunjuk sebagai penyedia kebutuhan air untuk didistrisbusikan ke daerah yang memerlukan.
Di Semarang, kata Agustina, tanda-tanda datangnya kemarau mulai dirasakan sejumlah wilayah, panas ekstrem pada siang hari dan kadang hujan deras terjadi pada sore atau malam hari dialami sejumlah wilayah di Kota Semarang. Perubahan cuaca ekstrem mulai dirasakan masyarakat, di mana suhu panas meningkat signifikan. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga memasuki puncak musim kemarau.
Dirinya juga mewanti-wanti masyarakat akan potensi kebakaran lahan akibat daun kering yang terbakar dan angin kencang musim kemarau dapat mempercepat penyebaran api.
"Jadi masyarakat harus aware ya. Walaupun kadang-kadang orang berasumsi ini cuaca tidak menentu, tapi ini sudah jelas bahwa kita harus menjaga," katanya.
Kota Semarang yang memiliki kombinasi wilayah perbukitan, lembah, sungai, hingga pesisir laut disebut turut memperbesar potensi risiko bencana jika tidak diantisipasi secara matang.
Kawasan Rawan Bencana
Sementara itu, Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, menyampaikan pola cuaca pada 2026 dinilai lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Perubahan suhu yang drastis hingga hujan tiba-tiba disertai angin kencang disebut menjadi fenomena yang perlu diwaspadai.
"Kalau kita bandingkan dengan 2025, 2026 ini relatif fenomenal. Ini cuaca panas, tiba-tiba nanti menjelang siang atau sore hujan deras disertai dengan angin kencang," kata Endro.
Berdasarkan notifikasi dari BMKG, disebutkan awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei, meskipun hingga April masih berpotensi terjadi hujan dan angin kencang.
Sebagai langkah konkret, BPBD Kota Semarang telah menyiapkan cadangan air bersih sebanyak 1 juta liter yang akan didistribusikan sesuai permintaan warga di wilayah terdampak.
"Kapan pun permintaan warga, di manapun nanti akan kita kirim sesuai permintaan warga," kata Endro.
Fenomena meningkatnya suhu panas dijelaskan terjadi karena posisi matahari yang mendekati garis khatulistiwa serta berkurangnya tutupan awan, sehingga paparan panas menjadi lebih intens di wilayah Semarang.
Berdasarkan pemetaan kawasan rawan bencana (KRB), wilayah Rowosari disebut masih menjadi prioritas utama dalam penanganan kekeringan. Kondisi geografis yang sulit dijangkau jaringan air bersih menjadi kendala utama.
Penanganan secara permanen, imbuh dia, sudah dilakukan dengan membuat sumur bor dalam. Namun, di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Demak itu tidak menghasilkan air bersih, melainkan gas, sehingga distribusi air tangki menjadi solusi utama.
"Rowosari masih menjadi prioritas pertama. Kendalanya di sana PDAM belum bisa masuk," ungkap Endro.
Selain Rowosari, beberapa wilayah lain seperti Wonosari (Ngaliyan) dan sebagian daerah di Gunungpati juga masuk dalam kategori rawan, meskipun sebagian telah mulai terjangkau jaringan pipanisasi PDAM.
Upaya mitigasi disebut terus dilakukan guna meminimalkan dampak bencana kekeringan agar tidak berulang dan meluas. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga lingkungan serta menghemat penggunaan air.
Dengan kesiapan logistik dan koordinasi lintas sektor, diharapkan dampak El Nino di Kota Semarang dapat ditekan seminimal mungkin, terutama bagi warga di wilayah yang selama ini mengalami kesulitan akses air bersih.
Sumber: Liputan6
.png)

