Tim gabungan SAR yang sedang melakukan proses evakuasi di lokasi kejadian terbaliknya kapal tunda atau tugboat di PT ASL Tanjung Uncang Batam, Kepri, Jumat (6/3/2026). ANTARA/HO-Basarnas/pri.
Batam, Pena Medan -
Tim Pencarian dan Pertolongan (Search and Rescue/SAR) gabungan masih melakukan pencarian terhadap satu anak buah kapal di lokasi kecelakaan tugboat yang terbalik di perairan sekitar galangan kapal PT ASL Tanjung Uncang, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Kepala Kantor SAR Kelas A Tanjungpinang Fazzli mengatakan pihaknya menerima informasi kejadian tersebut pada Jumat (6/3) pukul 17.57 WIB dari seorang pelapor.
"Kami dari Kantor SAR Tanjungpinang menerima informasi kecelakaan kapal tunda atau tugboat yang terbalik di perairan sekitar PT ASL Tanjung Uncang Batam. Tim kami dari Batam langsung menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 18.05 WIB untuk melakukan koordinasi dengan Polairud, KPLP dan pihak PT ASL," kata Fazzli saat dikonfirmasi di Batam, Sabtu.
Berdasarkan informasi awal, kecelakaan terjadi sekitar pukul 14.30 WIB saat tugboat tersebut sedang menarik kapal kargo Kyparissia yang sedang menjalani proses docking.
Dalam kejadian tersebut, terdapat lima orang kru di atas kapal. Dari lima orang tersebut, satu orang berhasil selamat, tiga orang ditemukan meninggal dunia, dan satu orang lainnya masih dalam pencarian.
Korban selamat diketahui bernama M. Habib Ansyari yang merupakan ABK. Sementara tiga korban meninggal dunia, yakni Abdul Rahman selaku kapten kapal, Guntur Pardede sebagai chief, dan Jhonson Bertuahman Damanik sebagai kepala kamar mesin.
Korban meninggal dunia sebelumnya telah dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Mutiara Aini Batam untuk penanganan lebih lanjut.
Adapun satu korban yang masih dalam pencarian adalah Yusuf Tankin yang bertugas sebagai second engineer.
Fazzli mengatakan hingga saat ini, tim SAR gabungan masih berupaya mencari korban tersebut, sekaligus melakukan upaya penanganan terhadap kapal yang terbalik.
"Proses pencarian masih berlangsung dan kami berharap Yusuf Tankin dapat segera ditemukan," ujarnya.
Komandan Pos SAR Batam Dedius Sembiring menjelaskan bahwa proses evakuasi masih terkendala kondisi kapal yang tenggelam serta adanya tumpahan minyak di dalam kapal.
"Proses evakuasi dengan posisi kapal yang masih tenggelam cukup berisiko bagi tim penyelam karena ada minyak di dalam kapal dan akses menuju ruang dalam kapal banyak yang tertutup," kata Dedius.
Ia juga menyebutkan bahwa akses di dalam kapal sangat sempit sehingga menyulitkan tim penyelam dalam melakukan pencarian.
Sebagai langkah penanganan, tugboat tersebut rencananya digeser ke tepi untuk mempermudah proses evakuasi dan pencarian korban di dalam kapal.
"Saat ini kapal sudah ditarik ke tepi dan menunggu langkah selanjutnya dari pihak galangan. Kami juga menunggu air pasang untuk mempermudah proses penanganan," ujarnya.
Selain itu, ia mengatakan pihak galangan juga memasang oil boom di sekitar lokasi kejadian sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan tumpahan minyak di perairan.
Dalam operasi pencarian ini, tim SAR Tanjungpinang bekerja sama dengan sejumlah unsur SAR gabungan, di antaranya VTS Batam, Polairud Polda Kepri, serta pihak PT ASL Batam.
Insiden ini menambah daftar kecelakaan kerja yang terjadi di kawasan galangan kapal tersebut. Sebelumnya, pada 24 Juni 2025, terjadi kebakaran di kapal MT Federal II yang menyebabkan empat pekerja meninggal dunia dan lima lainnya mengalami luka-luka.
Kemudian pada 15 Oktober 2025 kembali terjadi insiden di kapal yang sama yang menewaskan 14 orang serta melukai 17 pekerja lainnya. Selanjutnya pada 29 Desember 2025, dua pekerja meninggal akibat tersengat listrik saat melakukan pengecatan kapal.
Kebakaran juga kembali terjadi pada 25 Januari 2026 di kawasan galangan tersebut, namun dalam kejadian itu tidak dilaporkan adanya korban jiwa.
Sumber: Antara
.png)

