Kisah Perjuangan Nenek Jasa Tukar Uang di Kudus: Sempat Ditipu Uang Palsu Rp 5 Juta

Suminah menata uang di lapak jasa tukar uang baru miliknya di Jalan Sunan Kudus, pada Minggu (8/3). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan 

Kudus, Pena Medan -

Mengais rezeki dengan menjadi penyedia jasa tukar uang, Suminah (60) menawarkan pecahan uang kecil dan baru yang ia pajang di lapaknya di pinggir Jalan Sunan Kudus. Baginya, kejujuran adalah hal utama.

Seperti tahun sebelumnya, menjelang Lebaran Suminah kembali menawarkan jasa tukar uangnya karena warungnya di kampung halamannya di Semarang sedang sepi pembeli.

Selama ini, jasa tukar uang miliknya sangat membantu perekonomian keluarganya, terutama menjelang Lebaran.

Namun, di balik itu, ia pernah ditipu orang senilai Rp 5 juta. Peristiwa itu terjadi lima tahun lalu. Ia bercerita, kala itu ia hendak menutup lapak tukar uang miliknya. Kemudian ada pasangan suami istri datang menjelang azan magrib.

"Ada suami istri datang naik mobil menjelang magrib. Mereka awalnya tanya-tanya dahulu. Setelah sepakat, mereka bilang mau ke ATM dahulu," kata Suminah, Minggu (8/3).

Setelah pergi, mereka kembali lagi ke lapak Suminah lalu menunjukkan uang Rp 5 juta. Ternyata uang tersebut palsu.

"Tetapi mereka menghitung sendiri uangnya. Saya hanya melihat saja. Saat itu nominalnya memang Rp 5 juta," sambungnya.

Sadar Ditipu

Setelah proses penghitungan selesai, pasangan suami istri tersebut meninggalkan lapak milik Suminah. Suminah mengaku tidak menyadari saat didatangi penukar uang tersebut.

"Biasanya saya menghitung sendiri uang dari konsumen yang mau ditukarkan ke saya. Tetapi hari itu saya mengikuti saja uangnya dihitung mereka. Setelah mereka pergi, saya pegang kok lembaran uangnya agak beda," terangnya.

Suminah menata uang di lapak jasa tukar uang baru miliknya di Jalan Sunan Kudus, pada Minggu (8/3). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Setelah menyadari uang yang diterimanya palsu, ia menyarankan suaminya untuk mengecek keaslian uang tersebut ke salah satu toko emas di Jalan Sunan Kudus menggunakan alat pendeteksi uang palsu dengan sistem sinar UV.

"Ternyata benar palsu. Sekujur tubuh saya lemas dan rasanya ingin menangis," ungkapnya.

Ia tak menyangka bakal tertipu hingga Rp 5 juta. Pengalaman itu masih dikenangnya sampai sekarang. Ia berharap kejadian semacam itu tidak terulang.

Beruntungnya, saat itu masih awal Ramadan. Ia berusaha menutup kerugian dengan tetap menawarkan jasa tukar uang pada hari berikutnya hingga menjelang Lebaran.

"Alhamdulillah bisa tertutup. Tetapi rasa menyesal kehilangan Rp 5 juta tetap ada," ujarnya.

Rasa ketakutan terkadang masih ada. Namun, ia tetap menawarkan jasa tukar uang setiap tahunnya saat Ramadan hingga menjelang Lebaran.

Tahun ini, ia membawa uang Rp 25 juta. Nominal itu ia dapatkan dari beberapa pengepul. Biaya jasa yang harus dibayarnya kepada pengepul untuk mendapatkan uang baru berkisar 11 persen hingga 12 persen.

Sedangkan biaya jasa yang ia tawarkan kepada masyarakat sebesar 15 persen. Artinya, apabila masyarakat hendak menukar Rp 1 juta, maka harus membayar Rp 1.150.000.

"Jasanya memang 15 persen, meningkat dari tahun lalu 10 persen. Saya ambil uang baru di pengepul saja sudah 11 sampai 12 persen. Mau menukar di bank juga tidak melayani," ucapnya.

Ia sudah membuka lapak sejak H+7 Ramadan. Berbagai pecahan uang rupiah dibawanya, mulai dari Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, dan Rp 20 ribu. Nenek 60 tahun itu membuka lapaknya mulai pukul 08.00 WIB sampai 16.30 WIB.

"Rata-rata penukar uang sehari Rp 3 juta. Kalau pendapatan bersih saya per hari kisaran Rp 90 ribu. Kalau tahun lalu bisa menukar di bank sendiri tanpa lewat pengepul, keuntungan bersih saya bisa sampai Rp 200 ribuan per hari," jelasnya.



Sumber: Kumparan 


Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan



Iklan



نموذج الاتصال