Bagi Pasien Kanker Usia Muda Lebih Rentan Alami Tekanan Emosional yang Berat

Dokter onkologi medis Poon Yi Ling Eileen dari National Cancer Centre Singapore (NCCS) SingHealth bicara tentang kecemasan yang dialami pasien kanker usia muda. (Dok: Liputan6.com/Benedikta Desideria)

Pena Medan -

Pasien kanker tak cuma menghadapi tantangan fisik akibat penyakit dan pengobatan yang dijalani. Mereka juga mengalami tekanan emosional yang tidak ringan terlebih pada pasien usia muda sekitar 15 tahun ke atas dan di bawah 40 tahun.

Bagi pasien kanker usia remaja atau baru kuliah, diagnosis kanker sering datang sebagai guncangan besar karena mereka sebelumnya menjalani kehidupan yang normal seperti belajar, bekerja, dan berkumpul bersama teman.

"Banyak dari pasien kanker usia muda ini denial. Lalu, merasa marah karena 'Kenapa saya yang kena?' Apalagi jika dalam keluarga tak ada riwayat kanker sehingga ia satu-satunya yang terkena kanker, terlebih jika menjalani hidup sehat seperti tidak merokok dan minum alkohol," tutur dokter onkologi medis Poon Yi Ling Eileen dari National Cancer Centre Singapore (NCCS) SingHealth dalam sesi yang diikuti jurnalis Liputan6.com di Singapura, Selasa, 10 Maret 2026.

Rasa cemas juga muncul karena kekhawatiran akan sesuatu di masa depan. Misalnya tentang melanjutkan pendidikan, memiliki anak, dan mengejar cita-cita. Sebuah kondisi yang berbeda dengan pasien kanker yang berusia 50 atau 60 tahun ke atas.

Lalu, sebagian penyintas kanker justru mengalami kecemasan berkepanjangan karena terus khawatir penyakitnya akan kembali. Hal-hal kecil seperti munculnya benjolan atau perubahan kondisi tubuh dapat memicu rasa takut berlebihan.

Dalam konteks masyarakat Asia, Poon mengatakan keputusan pengobatan sering kali dipengaruhi oleh keluarga. Tidak jarang pasien muda tidak memiliki ruang untuk menyuarakan keinginannya sendiri, karena orangtua mengambil alih keputusan mengenai terapi.

Kondisi yang terjadi membuat pasien kanker usia muda rentan alami kecemasan.

"Jadi tidak heran bila banyak pasien kanker di usia muda yang mengalami kecemasan bahkan bisa sampai depresi," tutur dokter yang memiliki minat pada kanker usia remaja dan dewasa muda (adolescent and young adult oncology/AYAO) ini.

Cari Akar Masalah Penyebab Kecemasan

Paham banyak pasiennya yang mengalami kondisi kecemasan, Poon mengatakan bahwa hal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi penyebab pasien tersebut cemas atau tertekan.

Salah satu penyebab kecemasan adalah pasien kurang informasi.

"Jika kecemasan disebabkan kurangnya informasi, maka layanan klinik kami akan mencoba memberikan informasi tersebut atau menyampaikan kondisinya yang mungkin kompleks jadi lebih sederhana dan mudah dipahami," tuturnya.

Bisa juga kecemasan dari pasien karena masalah pembiayaan pengobatan kanker. Seperti diketahui pengobatan penyakit ini membutuhkan biaya tidak sedikit.

Jika keuangan jadi akar masalah kecemasan maka, lanjut Poon, pihaknya akan mencoba menghubungkan dengan lembaga pendanaan sosial.

Jika pasien kanker sampai alami serangan panik atau masalah kesehatan jiwa yang lebih serius maka akan dirujuk ke psikolog atau psikiater.

"Jadi, ketika kami tidak mampu memberikan konseling dasar, lalu pekerja sosial juga masih belum cukup, maka kami akan melibatkan psikolog dalam mengatasinya."

Poon mengatakan bahwa dalam menangani pengobatan pada pasien kanker usia muda perlu juga menyesuaikan dengan pendidikannya. Misalnya bila pasien tersebut berusia belasan atau awal 20-an.

Bila perlu, pihak rumah sakit akan menghubungi sekolah atau universitas tempat pasien belajar untuk memberi tahu kondisi pasien.

"Misalnya kami mengirim surat ke sekolah untuk memberi tahu bahwa murid ini mungkin akan mengalami efek samping kemoterapi, jadi ia tidak bisa menyelesaikan tugas sekolah dalam satu tapi dua minggu," tutur Poon.

Bisa juga pihak rumah sakit mengirim surat ke sekolah atau universitas untuk mengikuti ujian di rumah sakit.




Sumber: Liputan6 


Baca Juga Brow
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan



Iklan



نموذج الاتصال