Aurelie Moeremans (Foto: Instagram/@archangelachelsea)
Pena Medan -
Kisah hidup Aurelie Moeremans sebagai korban grooming yang ia tuangkan dalam buku Broken Strings ternyata mendapat respons luar biasa dari publik.
Setelah lebih dulu dirilis dalam format digital dan dibagikan gratis, kini Aurelie bersiap menghadirkan Broken Strings dalam versi fisik yang bisa dibaca dan disimpan.
Lewat akun Instagram-nya, Aurelie membagikan tampilan sampul buku yang didominasi warna hijau dengan ilustrasi sebuah tangan. Di bagian tengah terpampang jelas judul Broken Strings serta nama Aurelie Moeremans sebagai penulisnya.
"Halo teman-teman. Buku Broken Strings karya @aurelie tak lama lagi dapat kamu genggam secara langsung untuk kamu baca di kamar, sekolah, kampus, kafe, atau di mana saja," tulis Aurelie.
"Di dalam buku ini juga akan ada ilustrasi-ilustrasi penuh warna dari @tea.with.ami untuk semakin menghidupkan kisah dari penulis. Demi menyajikan pengalaman membaca yang terbaik, naskah buku versi hardcover ini juga disunting oleh @balqisnab, dengan tetap menjaga ruh dari penulisnya dalam setiap huruf demi huruf," tambahnya.
Sinopsis Buku Broken Strings
Broken Strings mengisahkan perjalanan hidup Aurelie sejak masa remajanya di Belgia. Lingkungan tempat tinggalnya kala itu digambarkan keras dan tidak ramah. Ia kerap mengalami perundungan, namun tetap berusaha bertahan sebagai pribadi yang baik dan berprestasi.
Pada usia 15 tahun, Aurelie berkenalan dengan seorang pria bernama Roby yang usianya terpaut cukup jauh darinya.
Awalnya, Roby tampil penuh perhatian dan romantis. Hubungan mereka berkembang menjadi kisah cinta yang terlihat indah, lengkap dengan janji-janji manis.
Namun seiring waktu, sikap Roby berubah. Ia mulai menunjukkan perilaku manipulatif dan melakukan kekerasan emosional. Hubungan yang semula terasa penuh cinta perlahan berubah menjadi bentuk kontrol. Aurelie dijauhkan dari lingkungannya, mengalami penghinaan verbal, hingga kekerasan fisik dan seksual.
Pengalaman itu membuat Aurelie terpuruk secara mental. Ia kemudian menyadari dirinya adalah korban child grooming, bentuk kekerasan yang sering kali tidak disadari oleh korban maupun orang-orang di sekitarnya.
Lewat Broken Strings, Aurelie menuliskan memoar ini sebagai bagian dari proses pemulihan. Ia menegaskan buku tersebut tidak ditulis untuk menyerang siapa pun. Nama, tempat, dan detail peristiwa disamarkan demi menjaga privasi semua pihak.
Meski sempat menuai polemik karena sosok yang disebut sebagai Roby menuduh adanya pencemaran nama baik, Broken Strings justru membuka diskusi luas tentang bahaya grooming dan pentingnya edukasi publik soal relasi yang tidak sehat.
Saat ini, Aurelie masih membagikan Broken Strings secara gratis dalam format digital melalui tautan di bio Instagram-nya. Buku ini tersedia dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris.
Langkah ini diambil agar kisahnya bisa menjangkau lebih banyak pembaca, sekaligus menjadi penguatan bagi para penyintas kekerasan.
Seiring meningkatnya minat pembaca, Aurelie pun memastikan buku ini akan segera hadir dalam versi cetak.
"Di bulan ini, kami akan membuka pintu pemesanannya (open pre-order) untuk kamu semua," tulisnya lagi.
"Tinggalkan jejak dengan menulis 'MAU' di kolom komentar, dan ketika masa pemesanannya resmi dibuka, kami akan menyelipkannya ke kotak DM kamu berupa informasi dan tautan pembeliannya," tambahnya.
Sumber: detik
.png)

