Karet Sumut ANTARA/Anggi Luthfi Panggabean
Medan, Pena Medan -
Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Sumatera Utara (Gapkindo Sumut) mencatat ekspor karet asal Sumatera Utara sepanjang tahun 2025 mencapai 249.379 ton .
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan jumlah ekspor jumlah ekspor tersebut menurun jika dibandingkan pada tahun 2024 yang tercatat 254.376 ton.
"Capaian tersebut menunjukkan bahwa realisasi ekspor karet Sumatera Utara masih jauh di bawah kondisi normal yang berkisar 500–600 ribu ton per tahun," ujar Edy Irwansyah dalam keterangan resmi yang diterima di Medan, Kamis.
Ia mengatakan penurunan volume ekspor tersebut terjadi di tengah pasar karet alam global yang masih dibayangi pelambatan permintaan.
"Meskipun rataan harga karet SICOM TSR20 tahun 2025 meningkat menjadi 177,11 sen AS per kilogram lebih tinggi dibanding tahun 2024 sebesar 174,34 sen AS per kilogram," kata dia.
Edy menjelaskan penurunan volume ekspor karet pada tahun tersebut dipengaruhi melemah-nya permintaan global khususnya dari sektor otomotif dan industri manufaktur.
Lalu, juga dipengaruhi perlambatan ekonomi di sejumlah negara importir utama serta gangguan cuaca ekstrem di negara-negara produsen karet seperti Tiongkok, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.
"Curah hujan tinggi, banjir, serta badai lokal telah menghambat kegiatan penyadapan dan pengolahan karet. Faktor lain yang turut menekan kinerja ekspor adalah penyesuaian stok di negara tujuan, tekanan biaya produksi, serta dinamika kebijakan perdagangan global, yang berdampak pada ekspor karet Indonesia secara umum," kata dia.
Di sisi lain, kata dia, kenaikan harga karet pada tahun 2025 mencerminkan adanya pengetatan pasokan global di tengah produksi yang belum pulih sepenuhnya.
Terkait kebijakan pasar Eropa, penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR)* yang mengatur kewajiban ketertelusuran dan jaminan bebas deforestasi untuk komoditas termasuk karet, secara resmi akan mulai berlaku pada 30 Desember 2026 bagi perusahaan besar dan menengah, sementara usaha mikro dan kecil memiliki masa transisi hingga 30 Juni 2027.
"Penundaan penerapan ini memberikan tambahan waktu bagi pelaku usaha karet untuk mempersiapkan sistem kepatuhan, sekaligus mengurangi tekanan jangka pendek terhadap arus ekspor ke Uni Eropa," sebut dia.
Sepanjang tahun 2025 Edy menjelaskan ekspor karet Sumatera Utara menjangkau 39 negara dengan lima negara tujuan utama masih didominasi.
Lima negara tujuan utama yakni Jepang 31,71 persen. Amerika Serikat 18,04 persen, Brasil 10,11 persen, Tiongkok 8,60 persen dan India 5,80 persen,
Lalu, Kawasan Eropa tetap menjadi pasar strategis dengan 19 negara tujuan ekspor, yaitu Spanyol 19,80 persen, Italia 18,42 persen, Jerman 12,30% persen, Polandia 9,84 persen, Luksemburg 9,17 persen, Rumania 6,25 persen dan, Prancis 6,16 persen.
Selanjutnya,Belgia 6,09 persen, Slovenia 3,32 persen, Bulgaria 2,46 persen, Yunani 1,34 persen, Latvia 1,19 persen, Belanda 1,12 persen, Kroasia 0,75 persen, Finlandia 0,67 persen, Serbia 0,45 persen, Ceko 0,30 persen, Inggris 0,24 persen, dan Rusia 0,14 persen.
"Dalam konteks pasar karet global yang masih menantang, penguatan produktivitas kebun, percepatan peremajaan, peningkatan mutu dan ketertelusuran bahan baku, serta diversifikasi pasar ekspor menjadi langkah strategis guna menjaga keberlanjutan dan daya saing ekspor karet Sumatera Utara ke depannya," ujarnya.
Sumber: Antara
.png)

